Thursday, 6 January 2011

Membaca Kode Ban


1. Ukuran Ban

Ukuran ban biasa menggunakan ukuran METRIC dan ukuran INCH.
a. Ukuran Metric
80 / 90 – 17
80 = adalah lebar telapak ban dalam ukuran mm
90 = adalah prosentase tinggi ban yang dihitung dari lebar ban
Jadi tinggi ban = 120 x 90% = 72 mm
17 = Ring Velg yang digunakan

 b. Ukuran Inch


275 – 17
275 = adalah lebar telapak dan tinggi ban dalam ukuran mm.
17 = Ring Velg yang digunakan
2. Tread Wear Factor

Indikator ke ausan ban. Jika ban sudah mencapai indicator ini ban sebaiknya lekas diganti

 3. Tube/Tubeless

Aki Kering VS Aki Basah

Aki adalah salah satu komponen pada kendaraan roda dua yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Aki merupakan alat untuk menghimpun tenaga listrik pada kendaraan tersebut, jika Aki bermasalah dapat dipastikan kinerja dan peforma motor Anda akan terhambat.
Aki pada kendaraan bermotor di kenal dalam 2 jenis yaitu Aki basah dan Aki kering namun kelebihan atau  kekurangan kinerja dari kedua Aki tersebut tergantung dari pendapat pribadi sendiri tetapi justru perawatan lah yang harus menjadi penilaian atau perhatian khusus.
Jika ada motor mengalami gejala susah saat distarter pada saat ingin memanaskan mesin di pagi hari setelah semalaman tidak di nyalakan atau lampu depan sudah agak redup ketika motor di nyalakan, itu bisa ada bermasalah dengan  Aki motor.
Aki kering dan Aki basah sama gejalanya, berarti Aki mulai mendapat gejala-gejala rusak. Jika Anda merasa gejala tersebut ada pada motor Anda nah sepertinya anda harus benar-benar memberikan perhatian khusus untuk Aki Anda.
Perawatan aki bisa dilakukan sendiri di rumah tanpa harus membawanya ke bengkel, untuk Aki basah perawatan yang harus dilakukan hanya mengontrol level ketinggian air aki dan menyiapkan air panas saja.
Perawatan untuk sendiri yaitu perbulan kita kontrol airnya, nanti dalam waktu tiga bulan atau empat bulan baru kita keluarkan air aki yang lama dan masukkkan air panas setelah itu kita kocok, jadi kotoran-kotoran di dalam aki akan keluar dan kita buang, ulangi dua kali atau sampai benar-benar bersih.
Setelah abis air dikeluarkan (sudah kering), lalu kita isi air aki  yang baru dan di cas kurang lebih 2 sampai 3 jam, tapi kalau ingin benar-benar bagus yatu waktunya 5 jam.
Sedangkan untuk Aki kering, perawatan yang dilakukan lebih mudah lagi tanpa harus di bersihkan, namun motor yang menggunakan Aki kering harus sering-sering di nyalakan.
kalau Aki kering perawatannya tidak ada, menurut saran saya motor dengan Aki kering harus rutin di pakai terus jangan sampai umpamanya berhenti seminggu, Aki akan lemah dan pengisian tidak akan stabil dan gampang mati, jadi kelebihan Aki kering simpel dan perawatan gampang.
Simpel dan sangat praktis bukan Jadi mulai sekarang berikan perhatian khusus untuk aki anda dan sekedar informasi tambahan biasanya umur penggunaan Aki kurang lebih 1 tahun

Honda CT70 1974: Restorasi Sempurna Monkey Klasik

JAKARTA (dp) — Honda CT70 yang mangkal di bengkel Bimo Kustom Bikes, Jakarta membuat kami terpincut. Bukan karena kami tak pernah melihat motor klasik itu sebelumnya. Honda CT70 yang berdiri manis di antara motor-motor custom karya Bimo Hendrawan ini sangat unik karena telah direstorasi begitu sempurna.
Menurut Bimo, Honda CT70 atau Honda Monkey yang kami temui merupakan milik Agoose. Dia mengaku motor ini merupakan unit motor pertama yang diberikan orang tuanya 36 tahun lalu.
Sayangnya, karena kurang perhatian motor itu dibiarkan lama teronggok di gudang. Hingga pada suatu ketika Agoose berfikir untuk mengembalikan kesegarannya. Akhirnya, dia menghubungi Bimo.
Bimo bercerita, banyak komponen dan bagian mesin yang hilang atau kusam serta rusak. “Aslinya, sih, masih utuh, tapi kurang cantik,” ujar master modifikasi Harley-Davidson ini.
Untuk mengubah Honda CT70 lansiran 1974 tampil seperti motor baru dibeli, Bimo melakukan restorasi dengan teliti serta mengganti beberapa item komponen dengan barang baru.
Ketika merestorasi Bimo mengaku tidak ditemui kesulitan berarti. Jam terbang Bimo tentu sudah lebih dari sekadar menangani motor kontet ini. “Yang masalah justru mencari komponen aslinya,” katanya.
Tapi di era internet seperti sekarang ini, kesulitan mencari komponen orisinal Honda CT70 juga diakui menjadi lebih ringan. “Lebih gampang karena kita bisa membandingkan gambar-gambar asli motor pada internet,” terangnya.
Untuk mencari komponen pengganti Bimo bahkan melakukan penelusuran barang hingga ke luar negeri. Inggris, China, Thailand hingga Belanda telah menjadi saran untuk penemuan komponen.
Hasilnya, Belanda menjadi dermaga terakhir. Honda CT70 berkelir merah ini pun berubah layaknya saat dia masih segar bugar di era 1974. Saringan udara, kunci, karet-karet foot step dan suspensi depan, spakbor, lampu-lampu menjadi lebih mengilap.
Bahkan karburator, perkabelan, sticker, stang, ban Bridgestone 3.50-10-2PR menjadi perhiasan baru pada motor berkapasitas 72 CC OHV ini. Tak cuma, penampilan, performa motor setinggi 955mm ini juga kembali ke asal, yaitu bisa menghasilkan  tenaga 5,5 hp dengan trosi 0,51 kg-m.
Gambar

Honda CB160 lansiran 1966 menjadi klimis

Motor ini dimiliki sebelumnya oleh mantan skater profesional dan aktor Jason Lee (My Name is Earl, Chasing Amy, dan Almost Famous ). Kondisinya yang mengkhawatirkan, membuat Jay dan punggawa Lossa Engineering bekerja keras merehab semua sektor, termasuk melucuti bagian frame dan menambal beberapa bagian yang telah rapuh. Semuanya dibuat kembali halus sebelum powder coating berona merah melapisi seluruh lapisan frame-nya.
House of Kolor Orion Silver menjadi pilihan yang melabur seluruh bodyparts-nya dipadu dengan jok berbungkus kulit hitam kualitas tinggi di mana di bawahnya dirancang menjadi terminal baterai dan kelistrikannya.
Cafe racer dengan model classic clubman bars menjadi pilihannya di mana Lossa Engineering meng-customized bagian kopling serta merancang ulang kabel rem depan lebih pendek serta kabel gasnya.
Sedangkan urusan dapurpacu, Lossa mencangkok big bore kit hingga 175cc dengan NOS Honda serta jeroan yang serbabaru. Bagian intake pun mendapat modifikasi untuk menginstall karburator Mikuni serta dua velocity stacks. Dan Poco Bastardo yang dalam bahasa Italia berarti Little Bastard siap mengantarkan vintage racing ini mengaspal di trek
Gambar




Wednesday, 5 January 2011

Ganti Bohlam Spidometer Honda Tiger Sendiri

Seiring meningkatnya usia pakai, bohlam bisa putus. Salah satunya yang ada di dalam spidometer (lampu senja) Honda Tiger. Jika dibiarkan, saat malam hari informasi-informasi seperti kecepatan, putaran mesin, volume bensin tak terpantau.

Jangan anggap enteng informasi itu, terutama sisa isi tangki. Enggak mau kan malam-malam dorong motor, gara-gara bensin habis lantaran tak terpantau. Makanya jika ada yang mati segera ganti. Toh tak sulit, cukup luangkan sedikit waktu untuk menggantinya.

Pertama siapkan bohlamnya, ada dua macam, besar dan kecil, yang biasa disebut bohlam cabe, karena bentuknya memang imut seperti cabai. Harganya yang asli (Honda Genuine Part) Rp 5.200. Spesifikasi aslinya 12V 1,2 watt, tapi kalau susah didapat bisa pakai yang 12V 5 watt, kelebihannya jadi lebih terang.

Siap? Lanjut… Pertama lepas kabel spidometer dengan memutarnya pakai tangan, jika sulit pakai tang (gbr.1). Lalu ambil kunci bintang untuk membuka 2 baut pengikat spido (gbr.2), “Atau ada yang menyebut kunci belimbing, pakai nomor 6,” terang Safrudin, kepala mekanik AHASS Clara Motor, Kebon Jeruk, Jakbar.

Jika sudah lepas, cek bagian bawah. Di situ ada tiga baut pengikat cover. Satu di depan jelas terlihat, dua di belakang pada lubang kecil. “Lepas pakai obeng plus (gbr.3),” lanjut mekanik disapa Udin itu.

Kemudian lepas cover spido, setelah ketiga baut lepas tarik saja pelan-pelan. Nah di baliknya terlihat beberapa rangkaian kabel dan soket bohlam. Cabut keempat bohlam senja, tepatnya yang pakai kabel warna cokelat dan hijau (gbr.4).

Buat mendeteksi mana yang putus, setelah tercabut posisikan kontak ke on, lalu aktifkan sakelar lampu senja. Nah ketahuan kan mana yang putus (gbr.5). Sekarang tinggal cabut yang putus, lalu ganti baru. Nyala lagi kan?

Terakhir pasang kembali soket pada dudukannya. Lalu rakit semua yang dibongkar dengan langkah kebalikan saat membuka. Beres kan? Nah sudah nyala lagi deh (gbr.6), kemungkinan mogok di malam hari pun bisa dihindari.
Gambar

Performance Honda Scoopy

Honda Scoopy memberikan kesan tersendiri buat pemiliknya, tampilan retro modern memang terlihat unik dan cantik. Namun, kemampuannya, tak bisa dipandang sebelah mata, enggak sama dengan motor kuno, tentunya.
Setelah digunakan beberapa lama, Tony si pemilik Scoopy 2010 ini sudah wara-wiri hingga menempuh jarak 2.500 km lebih. Ternyata dengan jarak segitu, dia merasa cukup puas dengan kemampuan standar dan ingin meningkatkan performa tunggangannya. Jadi, meski bodi klasik, performa masa kini.
Tentunya, performance parts pun perlu dipilih untuk meningkatkan kemampuan mesin skutik 110 cc itu. Memang, pilihannya tak sampai merombak kondisi standar terlalu banyak, kepala silinder tetap dibiarkan standar, begitu pun karburatornya, masih pakai pengabut bensin bawaan pabrik.Alhasil, pilihan komponen peningkat performa ala sejuta skuteris ini pun dipilih. Seperti menggunakan CDI aftermarket serta knalpot racing.
Supaya ketahuan seberapa besar peningkatan tenaga yang diperoleh, tentu perlu alat ukur. Apa lagi, jika bukan menggunakan mesin dynotest. Kali ini roller dyno yang ada di bengkel Khatulistiwa Surya Nusa di Jl. Pramuka, Jakpus menjadi tempat pengetesannya.
"Mesin ini pakai Tachoroller," tutur Ovi Sardjan, piawai dynotest dari KSN. Jadi, patokannya berdasar pada kecepatan roller, bukan pada putaran mesin.
Karena memang beban yang diukur adalah pada rodanya langsung. Maka hasil yang akan terlihat adalah kurva pada kecepatan roller tertentu.
Pertama-tama, kondisi standar jadi acuan awal. Setelah running beberapa kali, terdapat hasil tenaga maksimum 4,5 dk. Lantas, CDI pun dipasang, dengan merek Varro menjadi alat cobanya.

Terpaut perbedan 0,1 dk peningkatan tenaganya. Terlihat tidak terlalu besar, tetapi kurvanya sudah meningkat di putaran bawah. "Tenaganya sudah terlihat meningkat dari putaran bawah," ungkap Kris, operator dynometer tersebut.
Kedua hasil tadi, masih andalkan knalpot standar. Tentunya, seperti pengendara skutik pada umumnya, agar tarikan lebih enak, knalpot pun ditukar. Knalpot CLD dipasangkan lalu dicoba kembali untuk diukur.
Hasilnya, memang tampak berbeda jauh. Dari tenaga maksimal 4,6 dk setelah menggunakan CDI Varro, kali ini lonjakan tenaga cukup signifikan. Hasil berupa semburan daya maksimum 5,9 dk tertera pada layar monitor!
Tampak sangat jauh! Memang kurva lonjakan pun langsung terlihat berbeda sejak awal hingga pada kurva tertinggi di mana kondisi tenaga puncaknya. Hal ini disinyalir karena saluran buang lebih lancar dengan leher knalpot tanpa tekukan terlalu banyak juga silencer yang lebih bebas hambatan.
Sementara knalpot aslinya memang selain menggunakan pipa lebih kecil, juga tekukannya cukup banyak, dan mungkin ini menjadi penyebab tenaga lebih tertahan
 Gambar